Penyakit Hati A.I.D.S Lebih Berbahaya dari Penyakit AIDS

Posted on 13 February 2009

Pernah di suatu Jumat, saya mendengarkan ceramah shalat Jumat yang temanya berisikan tentang penyakit hati A.I.D.S. Khatib (sebutan bagi si penceramah Jumat) menjelaskan bahwa penyakit hati A.I.D.S. disini bukanlah penyakit tubuh yang ditimbulkan dari virus HIV yang telah kita tahu banyak, melainkan akronim dari Angkuh, Iri, Dengki, Sombong.

KeANGKUHan yang melekat pada hati akan melahirkan sikap yang merasa lebih dan paling hebat dan merasa selalu benar. Sikap ini sadar atau tidak akan membawa kebencian bagi orang-orang sekitarnya, dan kebencian ini akan melahirkan permusuhan.

IRI, walau sepertinya hanya penyakit hati yang kecil, namun hati yang IRI akan menjauhkan kita dari rasa syukur dan kufur nikmat karena selalu membandingkan dengan yang lebih “tinggi”, namun tidak pernah melihat kelebihan atau keberuntungan yang ia miliki dan dapatkan, terlebih lagi sifat IRI dapat menimbulkan rasa tidak suka dengan kelebihan yang orang lain miliki tanpa alasan.

Dengki, selalu melihat orang lain dari kekurangan atau kejelekannya saja, inipun akan mengakibatkan permusuhan dan merusak persaudaraan.

Sombong, adalah penyakit hati yang sering menghinggapi kita semua, yang benihnya kerap muncul tanpa kita sadari. Hati yang sombong akan menimbulkan sikap merendahkan orang lain dan membeda-bedakan orang. Sombong juga akan melahirkan sikap yang selalu ingin dianggap hebat atau lebih, meski kehebatan atau kelebihan itu tidak terdapat dalam dirinya, yang ujung-ujungnya dia harus berbohong demi ingin dianggap lebih.

Orang yang memiliki salah satu atau lebih dari satu penyakit hati diatas, justru bagi saya mereka patut dikasihani. Lho kenapa kasihan?? Tentu! Karena mereka tidak sadar bahwa penyakit hati tersebut hanya akan melahirkan sikap yang tidak disukai oleh orang-orang sekitarnya, membatasi persaudaraan dan akhirnya menutup jalan rezeki (persaudaraan = network = rezeki). Maka dari itu saya bilang hal tersebut lebih berbahaya dari penyakit AIDS sebenarnya, karena tidak hanya merugikan diri sendiri, namun orang-orang sekitarnya (terutama keluarganya dan kerabatnya) pun akan ikut  dibenci.

Lebih baik menjadi diri kita apa adanya, tanpa harus merasa lebih atau ingin dianggap hebat. Keinginan dipuji orang lain karena kita ingin dianggap lebih atau hebat (baik itu benar ataupun hanya berpura-pura dengan segala “bungkus manisnya”) hanya melahirkan kebencian dan permusuhan. Toh derajat manusia bukan dilihat dari “bungkusnya” namun dari sebesar apa dia bermanfaat untuk orang lain. Dan bagi saya, hanya kesempurnaan disisi Sang Khalik yang lebih bemakna dari segalanya.

Mudah-mudahan kita tidak termasuk, atau sadar duluan. Amiin

Mada Azhari

CEO Inventco Netmedia (www.inventco.net)
Partner Media Citra (www.mediacitra.co.id)
Community Relations Lintas Alumni (www.lintasalumni.com)

This post was written by:

Mada Mahadaya - who has written 137 posts on mahadaya.com | Strategi UKM dan Waralaba.


Contact the author

3 Comments For This Post

  1. jimmy adriansyah says:

    semua hal tersebut itu tergantung dari siapa yang menularkan dan siapa yang tertular, siapa yang memberi dan siapa yang menerima. A.I.D.S tak selamanya merugikan mas.

    buktinya banyak mempunyai gajala salah satunya demi hidupnya, NO PROBLEM

    ————————————–
    jimmy adriansyah
    http://www.jimmyadriansyah.co.cc

  2. Endri says:

    Ah… itu udah biasa…. banyak pelakunya di negeri ini. Apa karena ketidakmampuan mereka makanya mempunyai sikap seperti itu?????

  3. Blogpreneur says:

    banyakan duit gan, jadi begitu deh,, padahal sebagian kan ada hak kita juga :-)

Leave a Reply

Spam protection by WP Captcha-Free

Achievement


- -

Mada Mahadaya on Facebook