Seringkali kita bertemu “pak ogah” di tengah jalan, yang pasti bukan pak ogah yang ini..

Tapi mereka adalah orang yang membantu kita (entah membantu apa tidak) saat macet atau saat kita ingin berputar jalan. Kita sering berfikir pekerjaan seperti itu adalah pekerjaan yang nggak oke, atau kita pikir hasilnya pun tidak seberapa. Saya pun sempat berfikir seperti itu, sebelum akhirnya saya lakukan investigasi sendiri (udah kayak James Bond).
Saya lakukan investigasi di daerah Jakarta Pusat, caranya dengan menghitung rata-rata mobil yang memberi upah kepada para “pak ogah” dan coba sedikit bertanya langsung kepada pelaku “pak ogah”.
Hasilnya……(ayo kita duduk sini dulu), kita coba itung bareng rata-rata saja pendapatan kotor perbulan “pak ogah” sebelum dibagi perorangnya. Sekali lagi ini bukan perhitungan ideal yang tepat lho ya… . Faktor pengalinya antara lain :
- Dalam 1 menit = (+/-) 5 kendaraan (mobil, truk, bus)
- 1 jam = 60 menit
- Waktu kerja “pak ogah” dalam 1 hari = (+/-) 10 jam
- Waktu kerja “pak ogah” dalam 1 bulan = 26 hari (1 hari libur dalam seminggu)
- Rata-rata kendaraan memberi upah = Rp500,- (meski ada juga yang memberi lebih dari itu)
Jadi jika ditotalkan maka :
= 5 (kendaraan) X 60 (menit) X 10 (jam) X 26 (hari) X Rp500,-
= Rp 39.000.000,-/ bulan
Angka yang LUAR BIASA bukan??
Untuk pekerjaan seorang “pak ogah” yang cuma bermodalkan peluit, suara (terus…terus…oop!), pakaian seadanya dan pendidikan yang tidak perlu tinggi.
Jika anggap dibagi 8 orang (4 orang waktu pagi s/d sore untuk 2 arah, dan 4 orang waktu sore s/d malam untuk 2 arah), artinya perorang sudah bisa mengantongi sekitar Rp4.875.000,-
Jika dikurangi untuk jatah “BOS” dan biaya lainnya yang kira-kirakan saja sekitar Rp 1 juta-an, mereka masih bisa mengantongi lebih dari Rp 3 juta-an.
Dalam pikiran saya sempat terbersit, pekerjaan ini halal dan sepertinya oke juga untuk start up mengumpulkan modal, dan pekerjaan ini kayaknya lebih menjanjikan daripada bekerja di perkantoran yang (maaf) cuma menang “gaya”.
So…masih terfikir pekerjaan “pak ogah” adalah pekerjaan dengan hasil tidak seberapa dan kurang oke ? Yaa…kembali ke masing-masing aja deh
.
Mada
Founder Mahadaya Enterprise
CEO Inventco Netmedia
Managing Partner MediaCitra




September 7th, 2009 at 1:20 pm
ada ada ajah.. kayakna semua bisa jadi profesi yah
)
September 7th, 2009 at 2:41 pm
hmm…….*berfikir*
September 7th, 2009 at 4:28 pm
@griska : bener bener ga sangka kan sebegitu besarnya??
September 8th, 2009 at 2:54 pm
kalau gitu, apakah Inventco mau bikin perusahaan outsourcing tenaga Pak Ogah? Lumayan tuh,. 20% dari setiap orang dapet berapa. Kalau parkiran ada Secure Parking, mungkin sudah saatnya ada pula Ogah Services dgn motto “membantu lancarnya jalan kendaraan Anda”
September 9th, 2009 at 10:36 am
@Pitra : He3x…kyknya ide yang bagus ya… tapi “patah” banget ya sama core-nya
.
. Mungkin bapak Pitra mau berkolaborasi ??
Coba nanti saya pikirkan bisa masuk ke Inventco apa yang lain
Kita bagi hasil
October 18th, 2009 at 12:17 pm
Gak semudah yg dibayangkan.. Karena belom seperti perebutan lahan, membayar aparat, dll.
Ya lihat aja kenyataanya. Tidak ada yg kaya
October 19th, 2009 at 3:43 am
betul mas/mba… mungkin saya perlu investigasi jilid 2
October 19th, 2009 at 3:38 pm
mau tanya dong. tanya, tanya
kalau ngamen kan bisa masuk golongan pekerjaan halal tapi nista, trus kalo jd pak ogah tapi mintanya yg suka ngetuk-ngetuk body mobil gitu (maksa) termasuk ngemis juga gak ya? atau meres?
October 19th, 2009 at 4:40 pm
wah itu juga ga bolehlah…masa minta jasa kok maksa
October 28th, 2009 at 2:29 pm
ini pekerjaan membantu, bukan ngemis
dikasih syukur, ga dikasih juga legowo