Menurut Wikipedia :
Commitment means to duty or pledge to something or someone, and can refer to:
Personal commitment, interaction dominated by obligations. These obligations may be mutual, or self-imposed, or explicitly stated, or may not. Distinction is often made between commitment as a member of an organization (such as a sporting team, a religion, or as an employee), and a personal commitment, which is often a pledge or promise to ones’ self for personal growth.
Organizational commitment can mean something pledged by an organization as opposed to its members.
Professional, it may also refer to a person having impressive competence in a particular activity. Reasonable work moral and motivation. Having interest and desire to do a job well as well as holding positive attitude towards the profession are important elements in attaining a high level of professionalism.
Sejak saya memasuki dunia bisnis, kata komitmen dan profesional adalah kata kunci sekaligus kata mati bagi siapapun yang memasuki dunia bisnis (meski tidak hanya di bidang bisnis saja). Siapapun yang terjun ke dalam dunia tersebut, ya mau tidak mau harus memiliki integritas tinggi terhadap dua hal tersebut. Atau ekstremnya kalau tidak memiliki kedua hal tersebut, siap-siaplah tergusur atau tersingkirkan.
Bagi saya sendiri, kata komitmen bukan berarti hanya memiliki rasa tanggungjawab terhadap pekerjaan atau profesi, tapi juga rasa memiliki yang mendarah daging atas pekerjaan atau profesi yang kita jalani. Bukan dihitung dari berapa kali anda masuk kantor, berapa kali anda absen atau berapa kali anda mengerjakan tugas, tapi lebih jauh dari itu. Komitmen dalam pekerjaan atau profesi juga tidak dinilai dari segi pendapatan atau income yang kita terima atau seberapa besar anda dibayar, tapi seberapa besar tanggungjawab anda untuk melakukan yang terbaik dengan hasil yang terbaik yang dapat anda capai.
Profesional berasal dari kata profesi, namun bagi saya profesionalitas bukan semata-mata dinilai dari kemampuan (skill) yang kita miliki. Profesional juga merupakan sikap kita bertindak dalam menjalani profesi kita, dapat memposisikan diri sebagai apa dan bagaimana bersikap, dan dapat memilah mana yang masalah pribadi dan mana yang masalah profesi atau tidak mencampuradukkan antara masalah pribadi dan profesi.
Ada yang bilang “setiap orang punya hati dan perasaan, kalau ada masalah pasti pikiran dan hati/perasaan akan terganggu”. Ya saya setuju, saya pun manusia, tapi justru disinilah diuji keprofesionalitasan kita. Apa kita bisa memilah dan memposisikan diri atau malah terlena dan membawa segalanya menjadi rusak karena masalah pribadi kita ?
Menurut buku “Berbisnis dengan Hati” yang saya baca karangan Aa Gym dan Hermawan Kartajaya yang mengulas pendekatan spiritual dalam bisnis, dalam menjalankan bisnis apapun haruslah memakai prinsip-prisip yang sesuai hati nurani yakni kebeningan, dalam hal ini adalah kejujuran, keadilan, dan saling menguntungkan. Namun harus tetap berkomitmen memberikan hasil yang terbaik, bersikap profesional, dan tidak mencampuradukkan masalah bisnis ke dalam hati (dimasukkan dalam hati) atau sebaliknya.
Saya pun setuju dengan hal tersebut. Apalagi ditambah kompetisi bisnis yang sangat padat dan “kejam” sekarang ini. Dalam bisnis, semua harus dapat terpisah, mana yang masalah pribadi dan mana yang masalah bisnis.
Business is business, everything in business only ruled by business it self.
Business is business no heart feeling at all.
Kalau kita masih membawa masalah pribadi ke dalam bisnis, atau masalah bisnis ke dalam hati yang mengakibatkan merusak komitmen dan goal dalam setiap kegiatan bisnis, apalagi sampai silaturahmi menjadi terganggu cuma karena masalah tersebut, menurut saya…Kita belum mencapai kedewasaan dalam berbisnis.
Mada
Owner AirOksigen.com
Editor in Chief PassionMagz.com
Community Relations LintasAlumni.com



